GOBLOK
Blog ini adalah
medium saya untuk sharing dan curhat soal apapun yang kadang tidak bisa saya
utarakan secara langsung dikarenakan banyak alasan, mostly karena perasaan
tidak enakan.
Sampai detik ini
saya masih menjadi unemployed atau kata kasarnya pengangguran. Kerjaan saya di
rumah cuma makan, nonton youtube, baca buku, nulis blog, bikin + dengerin
podcast unqualified, stalking dan ngelike postingan di instagram, nonton
drakor, cuci piring dan menyapu, cuci pakaian kotor sama my mama, tidur, bangun
jam 12 teng karena kuota internet adanya yang midnight aja (bcos murah). Begitu
aja terus on repeat. Jujur banyak kesempatan lowongan yang saya terima
belakangan ini lewat WA dari sahabat saya. Ada juga info dari saudara saya.
Tapi karena saya banyak menunda waktu akhirnya satu persatu kesempatan itu
lewat.
Alasan sebenarnya
mengapa saya banyak menunda adalah saya mulai merasa skeptis untuk terjun lagi
di dunia pekerjaan yang istilahnya 9/5. I AM NOT A MORNING PERSON DUDE. Susah
untuk saya mengupayakan bangun pagi. Jujur sholat subuh saja tidak karena saya
baru tidur sekitaran jam 3-an. I realize that it’s a bad habit. Tapi mau
gimana. Mungkin itulah kenapa saya tidak punya penghasilan sendiri sampe saat
ini karena rejeki saya sudah keburu dipatok ayam. Kalo kata orang tua mah
begitu. Hahah
Selain alasan itu
saya juga skeptis soal orang atau tepatnya senior-senior yang akan saya temui
nanti di kantor atau sekadar toko-toko biasa. Throwback ke pengalaman beberapa
bulan lalu saat saya masih kerja di salah satu kantor. Disana saya sadar bahwa
ternyata senior itu nyebelin, munafik, sombong dan pelit ilmu. Pastinya label
ini tidak berlaku untuk semua orang. Ini hanyalah cerita berdasarkan apa yang
pernah saya rasakan dan disini saya harus meluruskan 1 hal yakni “BUKAN SAYA
YANG TIDAK BISA TAPI ANDA SENIOR GOBLOK”.
Oke balik ke masa
itu. Saya mendapatkan pekerjaan itu dibantu saudara saya. Saya cukup senang
mendapatkan job yang artinya saya akan punya penghasilan sendiri. Sehari
sebelum interview atau hari pertama kerja saya lupa, saya minta diajarkan MS
EXCEL sama kakak saya dengan dugaan tiap kantor pasti akan menggunakan program
pengolah angka tersebut untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Kakak saya
tetap membantu saya tapi dia bilang pasti kantor itu sudah punya sistemnya
sendiri alias tidak manual menggunakan excel. Untuk berjaga-jaga saya tetap
belajar hari itu.
Masalah dimulai di
hari pertama. Menurut opini pribadi sistem manajemen disana kurang baik. Di
hari training pertama, 1 dari 3 anak baru hanya saya yang tidak kebagian
pelatih katakanlah. Sebut saja si Max dan si Putri kawan saya sesama trainer mendapat
masing-masing 1 senior yang membantu mengajarkan cara kerja dan utak-atik masuk
ke dalam sistem yang digunakan oleh perusahaan itu. Malangnya saya tidak dengan
alasan senior yang akan membantu saya tidak ada sebab sedang cuti hamil.
GOBLOK. Sudah tahu sedang cuti hamil yah jangan dipilih. Kan masih ada karyawan
lain. Alhasil saya tertinggal jauh dari kawan-kawan saya yang sesama anak baru.
Parahnya karena ketertinggalan tersebut membuat mereka menilai bahwa saya tidak
mampu atau berkompeten dalam bekerja. Sehingga saya tidak dikasih pekerjaan
lagi. Maka ketika bos datang mengecek para karyawannya, saya terlihat bengong
menatap layar komputer dan berpura-pura sedang melakukan sesuatu. Padahal
mereka sendiri yang sejak awal tidak mengajarkan saya. Kan TAI. Bos mah pasti
mendengarkan pendapat para karyawan lama.
“Oh iya si nita
itu tidak bisa bikin ini. Dia itu kerjanya lambat (kan saya belajar otodidak
goblok). Dia itu tidak sebagus si max atau si putri. FUCK. Kalian tahu tidak
hal paling menyebalkan adalah informasi yang tidak benar tentang saya ini sampe
ke mama saya yang dirumah. Kok bisa? Ok jadi kantor tempat saya kerja kebetulan
ada orang dalem yang kenal sama saudara saya. Otomatis apa-apa yang terjadi di
kantor, yang faktanya tidak begitu masuklah ke telinga saudara dan dilanjutkan
ke telinga mama saya yang dimana usianya sudah lansia yang biasanya menerima
informasi mentah-mentah berakhir dengan menilai saya sama dengan orang kantor.
Almost tiap hari pulang kantor kami selalu berantem dan saya selalu dimarahi
abis-abisan. Suasana tempat kerja tidak kondusif eh pulang ke rumah tidak
nyaman juga. Itulah alasan saat itu hubungan saya tidak baik dengan mama.
Dari situ saya
bisa menilai bahwa nanti kalau saya kerja kantoran lagi, orang-orangnya
munafik, pelit ilmu, sombong. Di depan bos bilangnya “iya bos nanti saya bantu
ajarkan, eh pas bos tidak ada bukannya ditraining malah disuruh-suruh naik
turun tangga antar dokumen. Jujur bukan masalah bagi saya untuk disuruh-suruh.
Wajar anak baru disuruh-suruh. Cuma harusnya kan 50-50. 50 persen disuruh dan
50 persen ditraining. Kan enak dua-duanya. Kalo saya sudah mengerti caranya,
yang enak siapa juga, semua karyawan bahkan bos. Karena pekerjaan akan selesai
dengan efektif dan efisien.
Oleh karena
pikiran skeptis tadi alhasil saya mikir-mikir terlalu lama dan endingnya tidak
memasukan cv lagi. Selain itu sebenarnya saya merasa bahwa pekerjaan sebelum-sebelumnya
tidak cocok dengan kepribadian saya. Saya lebih suka industri kreatif dimana
saya bisa melakukan hal yang saya cintai kapanpun dan bekerja untuk, dari,
& oleh saya sendiri. Yah masing-masing orang bedalah. Don’t judge!
Komentar